KALI KEDUA
PASCA PERPISAHAN
Kata "Ikhlas" bisa saja ku ucapkan ribuan kali dalam sehari, tetapi mulut dan hati tak pernah bisa berkompromi, hati tak pernah benar-benar mengikhlaskan kepergianmu. sebab kehadiranmu kala itu membuatku tak pernah ingin lagi akrab dengan sebuah kata pisah.
Aku tak tahu, kapan aku bisa melupakanmu sebab pasca perpisahan ini. tak ada yang berubah, suaramu masih saja bergeming ditelinga ku, wajahmu selalu hadir di bayang-bayang aktivitas ku, kata-kata manismu masih tercatat jelas di otak ku.
Apakah aku harus menanggung sedihnya perpisahan untuk setiap pertemuan?
Lalu mengapa kau datang hanya untuk sekedar singgah?
Aku teramat bahagia dengan kehadiranmu.
Hingga senyuman mu pernah membuat ku tak mengenal sebuah kata tangis.
Video call, adalah salah satu penawar rindu yang paling mujarab kala itu, menatap wajah mu lewat layar ponsel sudah cukup menjadi pelepas rindu. untung saja, kita hidup dizaman yang sudah canggih. Jika ini adalah zaman dahulu yang berkomunikasi hanya bisa dilakukan lewat surat menyurat, aku tak tahu dengan cara apa aku bisa mengurangi rindu yang semakin hari semakin tumbuh.
Dibawah langit yang semakin temaram, rindu ku semakin mencekam, selalu berharap untuk dipertemukan, namun tak ingin lagi untuk dipisahkan.
Kata "Ikhlas" bisa saja ku ucapkan ribuan kali dalam sehari, tetapi mulut dan hati tak pernah bisa berkompromi, hati tak pernah benar-benar mengikhlaskan kepergianmu. sebab kehadiranmu kala itu membuatku tak pernah ingin lagi akrab dengan sebuah kata pisah.
Aku tak tahu, kapan aku bisa melupakanmu sebab pasca perpisahan ini. tak ada yang berubah, suaramu masih saja bergeming ditelinga ku, wajahmu selalu hadir di bayang-bayang aktivitas ku, kata-kata manismu masih tercatat jelas di otak ku.
Apakah aku harus menanggung sedihnya perpisahan untuk setiap pertemuan?
Lalu mengapa kau datang hanya untuk sekedar singgah?
Aku teramat bahagia dengan kehadiranmu.
Hingga senyuman mu pernah membuat ku tak mengenal sebuah kata tangis.
Video call, adalah salah satu penawar rindu yang paling mujarab kala itu, menatap wajah mu lewat layar ponsel sudah cukup menjadi pelepas rindu. untung saja, kita hidup dizaman yang sudah canggih. Jika ini adalah zaman dahulu yang berkomunikasi hanya bisa dilakukan lewat surat menyurat, aku tak tahu dengan cara apa aku bisa mengurangi rindu yang semakin hari semakin tumbuh.
Dibawah langit yang semakin temaram, rindu ku semakin mencekam, selalu berharap untuk dipertemukan, namun tak ingin lagi untuk dipisahkan.
"saat kau merasakan indahnya pertemuan, kau harus mengingat pahitnya perpisahan"
Komentar
Posting Komentar